Tuesday, September 22, 2020
Home > Kegiatan > Salurkan Zakat Maal Ke Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an, Mengokohkan Benteng Pertahanan Dalam Perang Peradaban

Salurkan Zakat Maal Ke Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an, Mengokohkan Benteng Pertahanan Dalam Perang Peradaban

Salurkan Zakat Maal Ke Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an, Mengokohkan Benteng Pertahanan Dalam Perang Peradaban 

Allah Azza wa Jalla berfirman (artinya) ,

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk fi sabilillah (jalan Allah) dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah.” (QS At Taubah 60)

Sebagian ulama cenderung menyempitkan pengertian fi sabilillah dalam ayat ini hanya untuk tentara yang sedang berjihad di medan perang. Sebab lafadz fi sabilillah di dalam Al Quran selalu mengacu kepada medan jihad dan peperangan fisik. Maka mereka tidak setuju bila masjid, pesantren dan lembaga sejenis dikatakan sebagai perluasan makna fi sabilillah.

Namun sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa makna fi sabilillah sangat luas, tidak terbatas hanya pada jihad di medan pertempuran semata, melainkan juga pada segala bentuk  perjuangan membela agama Islam.

“Secara zhahir, Imam Anas bin Malik dan Imam Hasan Al Bashri memperbolehkan penggunaan zakat untuk membangun masjid, membangun jalan atau jembatan. Sedangkan bantahan dari Ibnu Qudamah (Hanabilah) terhadap pendapat di atas, tidak kuat. Sebab penggunaan dana untuk jembatan dan jalan termasuk dalam lingkup keumuman ayat ‘Fi Sabilillah’, sebagaimana membangun masjid, pengadaan jembatan dan jalan. Kesimpulannya, kami sependapat dengan sebagian ulama yang memperbolehkan alokasi zakat untuk pembangunan masjid dan lainnya. Jika seorang muzakki (orang yang membayar zakat) menyerahkan zakat wajibnya untuk membangun masjid, maka kewajibannya telah gugur dan akan mendapatkan pahala.” (Fatawa Al Azhar I: 139)

 “Imam Al Qaffal mengutip dari sebagian ulama fikih bahwa mereka memperbolehkan mengalokasikan zakat ke sektor-sektor kebaikan, seperti mengkafani mayat, membangun benteng pertahanan dan membangun masjid. Sebab firman Allah yang berbunyi ‘Fi Sabilillah’ mencakup keseluruhan” (Tafsir Al Munir I : 344)

Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin menjelaskan,

“Di antara makna fi sabilillah adalah belajar ilmu agama. Karena musuh agama ada dua yaitu orang-orang musyrik dan orang-orang munafik sehingga keduanya harus dilawan untuk menjaga kelestarian ajaran Islam yang Allah berikan bagi umat manusia. Allah Berfirman memerintahkan jihad kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka jahannam dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya”. (QS. At Taubah : 72).

Jihad melawan orang-orang musyrik dilakukan dengan mengangkat senjata sedangkan jihad melawan orang-orang munafik dengan ilmu bukan dengan senjata. Oleh karena itu, boleh memberikan zakat kepada mereka yang belajar ilmu agama untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka atau untuk biaya pengadaan kitab-kitab yang mereka butuhkan. Baik untuk kepemilikan pribadi atau untuk umum, seperti membeli kitab kemudian diletakkan di perpustakaan yang  sering dicari oleh para penuntut ilmu agama. Karena kitab bagi pelajar, seperti pedang atau peluru dan semacamnya bagi orang  yang berperang”. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 18/253).

Merujuk kepada pendapat Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin maka dapat kita simpulkan bahwa jika dalam peperangan fisik zakat maal digunakan untuk membeli senjata atau untuk mendirikan benteng maka dalam ghazwul fikri atau perang pemikiran seperti yang sedang terjadi saat ini, kita tentu boleh mengalokasikan zakat maal untuk berbagai keperluan pendidikan terutama  untuk pesantren karena pesantren merupakan benteng pertahanan yang paling kuat dalam membendung ghazwul fikri yang dampaknya adalah kemerosotan akhlaq dan kehancuran generasi penerus Islam .

 APA ITU GHAZWUL FIKRI ?

Ghazwul Fikri adalah salah satu bentuk peperangan yang dilancarkan terhadap umat Islam yang berdampak pada kehancuran aqidah, akhlaq,  keyakinan, pemahaman dan pemikiran umat Islam. Ini merupakan cara perusakan yang paling berbahaya  yang dihadapi umat Islam dan sarana yang sangat jitu untuk menjauhkan dari agamanya. Allah menerangkan tentang usaha kaum kafir yang tidak pernah berhenti dalam menghancurkan aqidah, akhlaq dan keimanan umat Islam seperti dalam ayat-ayat berikut :

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti tata cara kehidupan (agama) mereka” (QS  Al Baqarah 120)

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup”. (QS Al Baqarah 217)

 

Samuel Zwemmer, seorang tokoh Yahudi dalam konferensi missi di Yerusalem tahun 1935 mengatakan, Misi utama kita bukanlah menjadikan kaum muslimin beralih agama menjadi Kristen atau Yahudi, tapi cukuplah dengan menjauhkan mereka dari Islam. Kita jadikan mereka sebagai generasi muda Islam yang jauh dari Islam, malas bekerja keras, suka berfoya-foya, senang dengan segala kemaksiatan, memburu kenikmatan hidup, dan orientasi hidupnya semata untuk memuaskan hawa nafsunya”

William Gladstone mantan Perdana Menteri Inggris mengatakan : “Percuma kita memerangi umat Islam, dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al Qur’an dari hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. “Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam, oleh karena itu, tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.“

Dari pernyataan para musuh-musuh Islam ini dapat kita simpulkan bahwa mereka telah merubah pola dan metode peperangan melawan Islam dan kaum muslimin dari perang fisik menjadi perang pemikiran dan peradaban melalui penghancuran akhlak dan aqidah umat Islam. Karena itulah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam adalah front terdepan yang sangat diharapkan akan mencetak para pemimpin dan pejuang pembela agama Allah ini, lebih-lebih para penghafal Al Qur’an sebagaimana ungkapan Imam Fudhail bin Iyadh

حَامِلُ الْقُرْآنِ حَامِلُ رَايَةِ الْإِسْلَامِ

 “Para penghafal Al Qur’an adalah para pembawa panji-panji Islam” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliya’ dengan sanad yang kuat)

Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an An Nahl mengajak bapak dan ibu untuk mengalokasikan zakat maal tahun ini melalui Pondok Pesantren Tahfizhul An Nahl yang Insya Allah akan kami manfaatkan untuk membangun sarana pendidikan seperti pembangunan asrama santri, pengadaan buku-buku perpustakaan, pengadaan laboratorium computer dan sebagainya.

Zakat maal bapak dan ibu dapat ditransfer melalui rekening-rekening berikut :

Hormat kami

Abu Izzuddin Fuad Al Hazimi

Khadimul Ma’had

 

2 thoughts on “Salurkan Zakat Maal Ke Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an, Mengokohkan Benteng Pertahanan Dalam Perang Peradaban

  1. Saya berminat menyalurkan sebagian zakat maal saya ke Pesantren Tahfizhul Qur’an. Semoga berkah

  2. Jazzakumullah khoiron. Silahkan Pak Irwan. Untuk Konfirmasi bisa ke nomor ustadz Fuad alHazimi +62 811-2903-600

Leave a Reply

Your email address will not be published.